Di tengah luka yang begitu dalam—saat Abu Thalib dan Khadijah wafat, dan penduduk Thaif melempari beliau dengan batu—Rasulullah ﷺ diuji dengan duka yang tak berkesudahan. Namun di sanalah, dalam kelamnya kesabaran, Allah ﷻ menghibur hati kekasih-Nya dengan perjalanan yang tak pernah dialami manusia sebelumnya: Isra dan Mi’raj.
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu menembus langit tujuh. Ini adalah simbol penguatan iman, penghiburan ilahi, dan penegasan kewajiban paling agung dalam Islam: shalat.
Shalat sebagai Hadiah Langit
Dalam peristiwa Mi’raj, Rasulullah ﷺ diperlihatkan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Di Sidratul Muntaha, beliau menerima perintah langsung dari Allah tanpa perantara malaikat: shalat lima waktu. Hadiah surgawi ini awalnya diwajibkan 50 kali, namun dikurangi menjadi 5, tanpa mengurangi pahalanya.
Bayangkan, shalat—yang seringkali kita lalaikan—adalah hadiah utama dari langit, bukan sekadar ibadah. Ini adalah tali penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Cahaya di Tengah Kesulitan
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa semakin gelap ujian yang kita alami, semakin dekat pertolongan Allah. Saat hidup menghimpit dari segala arah, jangan menyerah. Karena bisa jadi, seperti Rasulullah ﷺ, kita sedang dipersiapkan untuk naik lebih tinggi.
Jangan remehkan shalat. Karena ia bukan sekadar kewajiban, tapi bukti cinta Allah pada hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat adalah cahaya.”
(HR. Muslim)
🌙 Mari renungkan kembali peristiwa Isra Mi’raj, dan bangun kembali semangat spiritual kita dengan menjaga shalat, memperkuat iman, dan tetap sabar dalam menghadapi ujian.
Karena setelah malam yang panjang dan berat, Allah pasti mengundang kita menuju cahaya.