Ketika Kesibukan Dunia Terasa Penuh, Namun Hati Masih Merasa Kosong

Di tengah kesibukan dunia, banyak dari kita tampak baik-baik saja. Jadwal penuh, aktivitas berjalan, tanggung jawab terselesaikan. Namun ketika semua itu berhenti sejenak,, hati justru mulai berbicara—tentang lelah yang tidak terlihat, tentang ruang kosong yang selama ini terabaikan.

Sering kali kekosongan ini disalahartikan sebagai kurang istirahat atau kurang hiburan. Padahal, yang kosong bukanlah waktunya, melainkan hubungan hati dengan Allah. Tubuh bergerak tanpa henti, tetapi jiwa berjalan tanpa arah.

Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
(QS. Ar-Ra’d[13]: 28)

Ketenangan tidak lahir dari seberapa sibuk hidup kita, tetapi dari seberapa dekat hati kita dengan Allah. Ketika dunia terlalu memenuhi ruang hati, ketenteraman perlahan menjauh.

Kesibukan dunia bukanlah sesuatu yang salah. Bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan peran hidup adalah bagian dari amanah. Namun masalah muncul ketika semua itu berjalan tanpa ruang ruhani. Hati bekerja tanpa jeda, tanpa arah, dan tanpa tempat kembali.

Allah juga mengingatkan:

عْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًاۖ وَفِى ٱلْأَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ﴿٢٠﴾

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.
(QS. Al-Hadid[57]: 20)

Ayat ini bukan larangan untuk hidup di dunia, tetapi ajakan untuk menempatkannya di posisi yang tepat, agar dunia tidak menjadi satu-satunya tujuan. Ketika dunia menguasai hati sepenuhnya, ketenangan sejati sulit ditemukan.

Yang kita butuhkan saat ini bukan tambahan aktivitas atau target ibadah yang memberatkan, Cukup dengan satu momen hening untuk berdoa dengan jujur. Satu ayat Al-Qur’an yang dibaca perlahan. Satu kesadaran bahwa hati juga perlu dirawat dengan selalu mengingat Allah.

Di bulan Ramadhan, kita belajar bahwa yang paling lelah bukan tubuh melainkan hati yang terlalu lama jauh dari Allah.

Ramadhan adalah undangan untuk berhenti sejenak—bukan dari dunia, tetapi dari kelalaian.
Perlahan, dengan mengingat Allah, ruang kosong di hati itu akan terisi dengan ketenangan.

Jika kamu ingin belajar menata hati di tengah dunia yang sibuk, berjalanlah bersama kami di—
Komunitas Kiprah Ridhallah
”Awali Hijrahmu dari Al-Qur’an”
www.kiprahridhallah.com

Share the Post:

Berita Lainnya

cropped-YAYASAN-3.png

Komunitas Tilawah dan Tahsin. Dapatkan bimbingan membaca Al-Qur'an
sesuai kaidah Tajwid. Didirikan oleh Ustazah Umma Sittina, S.Pd.

Alamat

RT.6/RW.2, Dusun Dua, Tambelang, Krucil (Masjid AL-MUJAHIDIN)
KRUCIL, KAB. PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, ID 67288

Copyright © Yayasan Cahaya Kiprah Ridho Ilahi 2024 | All Rights Reserved.

Scroll to Top