Makna Idul Fitri, Filosofi Ketupat, dan Adab Bersalaman dalam Islam

  1. Idul Fitri: Kembali kepada Fitrah yang Suci

Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang penuh makna bagi umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan, tibalah saatnya bagi setiap muslim untuk meraih kemenangan spiritual, yaitu kembali kepada fitrah — kesucian jiwa yang bersih dari dosa dan keburukan.

Kata “Idul Fitri” sendiri berasal dari bahasa Arab, terdiri dari dua kata: ‘Id’ (kembali) dan ‘Fitri’ (kesucian). Dengan demikian, Idul Fitri bermakna “kembali kepada kesucian” setelah ditempa oleh ibadah Ramadan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati terletak pada kemampuan manusia untuk menyucikan hati dari dosa dan hawa nafsu. Karena itu, Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan lezat, tetapi tentang penyucian diri dan pembaruan iman.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi penegasan bahwa makna kemenangan sejati pada Idul Fitri adalah ampunan Allah dan kesucian hati, bukan sekadar euforia perayaan.


  1. Ketupat: Simbol Pengakuan Dosa dan Kesucian Hati

Dalam tradisi masyarakat Nusantara, Idul Fitri identik dengan makanan khas ketupat. Bukan sekadar hidangan lezat, ketupat memiliki makna simbolik yang dalam dan sarat nilai keislaman.

Dalam bahasa Jawa, ketupat sering dikaitkan dengan istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Bentuk anyaman ketupat yang rumit melambangkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkelindan. Namun, setelah dimasak dan dibuka, ketupat menjadi putih bersih — simbol hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.

Kulit ketupat terbuat dari janur, yaitu daun kelapa muda. Dalam filosofi Jawa, janur diartikan sebagai “jatining nur” atau “cahaya sejati”. Cahaya inilah yang diibaratkan sebagai petunjuk Allah SWT yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran.

Ketupat juga menjadi lambang persaudaraan dan kebersamaan. Saat keluarga dan tetangga saling mengunjungi untuk bermaafan sambil menyantap ketupat, di sanalah terjalin ikatan ukhuwah yang memperkuat persatuan umat.


3. Adab Bersalaman dalam Islam: Antara Kasih Sayang dan Batas Syariat

    Salah satu tradisi yang melekat saat Idul Fitri adalah bersalaman dan saling memaafkan. Dalam Islam, bersalaman (musafahah) adalah amalan yang sangat dianjurkan, karena menunjukkan kasih sayang dan persaudaraan antar sesama muslim.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka saling berjabat tangan, melainkan diampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah.”
    (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah — hadits hasan sahih)

    Hadits ini menjelaskan bahwa bersalaman adalah amalan yang menghapus dosa dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Namun demikian, Islam menetapkan batas adab yang jelas dalam bersalaman, terutama antara laki-laki dan perempuan.

    Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:

    “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan perempuan.”
    (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i — hadits sahih)

    Hadits ini menunjukkan bahwa bersalaman hanya diperbolehkan antara sesama jenis kelamin atau dengan mahramnya, bukan dengan lawan jenis yang bukan mahram, meskipun dalam suasana perayaan. Hal ini merupakan bentuk penjagaan kehormatan dan kesucian diri dalam Islam.

    Saat bersalaman, adab terbaik adalah dengan niat tulus, wajah yang cerah, dan ucapan yang penuh doa. Salah satu kalimat terbaik yang diajarkan para sahabat saat Idul Fitri adalah:

    “Taqabbalallahu minna wa minkum” — Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.

    Ungkapan ini bukan sekadar salam, melainkan doa dan bentuk penghormatan antar sesama muslim.


    4. Idul Fitri: Momentum Silaturahmi dan Penyucian Jiwa

    Idul Fitri adalah saat terbaik untuk mempererat silaturahmi, menghapus kesalahpahaman, dan menumbuhkan rasa kasih di antara sesama. Dalam ajaran Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang agung dan menjadi salah satu penyebab luasnya rezeki serta panjangnya umur.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
    (QS. Ali Imran [3]: 133)

    Dengan demikian, hari raya Idul Fitri bukan akhir dari ibadah Ramadan, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju kesucian yang hakiki. Ia mengajarkan kita bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada pesta atau pakaian baru, tetapi pada jiwa yang bersih, hati yang lapang, dan hubungan yang rukun antar sesama.


    Kesimpulan

    Idul Fitri, ketupat, dan tradisi bersalaman adalah rangkaian makna yang saling melengkapi. Idul Fitri mengajarkan kita untuk kembali suci, ketupat mengingatkan kita untuk mengakui kesalahan, dan bersalaman menguatkan ukhuwah di atas landasan syariat.

    Semoga setiap langkah di hari yang fitri ini menjadi saksi atas niat kita untuk memperbaiki diri, menebar kedamaian, dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

    🌿 Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu ‘am wa antum bi khair.
    (Semoga Allah menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dalam keadaan suci.)

    #idulfitri

    #ketupat

    #adabsalaman

    Share the Post:

    Berita Lainnya

    cropped-YAYASAN-3.png

    Komunitas Tilawah dan Tahsin. Dapatkan bimbingan membaca Al-Qur'an
    sesuai kaidah Tajwid. Didirikan oleh Ustazah Umma Sittina, S.Pd.

    Alamat

    RT.6/RW.2, Dusun Dua, Tambelang, Krucil (Masjid AL-MUJAHIDIN)
    KRUCIL, KAB. PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, ID 67288

    Copyright © Yayasan Cahaya Kiprah Ridho Ilahi 2024 | All Rights Reserved.

    Scroll to Top